Le Déserteur ~Dilema seorang prajurit~

Pernahkah kita melanggar peraturan? jawabannya tentu berbeda pada setiap individu, terlepas dari apakah melanggar dengan alasan yang lebih kuat atau hanya sekedar apologi kita sebagai makhluk yang -katanya- dicetak untuk merasakan ‘nikmatnya’ membangkang.

namun saya yakin dalam keadaan itu hati kecil kita merasa bersalah atau minimal berasa tak nyaman. nah bisa di bayangkan jika keadaan ini dialami oleh seorang prajurit pasti dilematisnya lebih bergejolak.

Boris Vian, seorang sastrawan Perancis menggambarkan keadaan ini dalam sebuah puisi panjang dengan judul Le Déserteur (Sang Pembelot)

Monsieur le Président
Je vous fais une lettre
Que vous lirez peut-être
Si vous avez le temps

Je viens de recevoir
Mes papiers militaires
Pour partir à la guerre
Avant mercredi soir

Monsieur le Président
Je ne veux pas la faire
Je ne suis pas sur terre
Pour tuer des pauvres gens

C´est pas pour vous fâcher
Il faut que je vous dise
Ma décision est prise
Je m´en vais déserter

Depuis que je suis né
J´ai vu mourir mon père
J´ai vu partir mes frères
Et pleurer mes enfants

Ma mère a tant souffert
Elle est dedans sa tombe
Et se moque des bombes
Et se moque des vers

Quand j´étais prisonnier
On m´a volé ma femme
On m´a volé mon âme
Et tout mon cher passé

Demain de bon matin
Je fermerai ma porte
Au nez des années mortes
J´irai sur les chemins

Je mendierai ma vie
Sur les routes de France
De Bretagne en Provence
Et je dirai aux gens:

Refusez d´obéir
Refusez de la faire
N´allez pas à la guerre
Refusez de partir

S´il faut donner son sang
Allez donner le vôtre
Vous êtes bon apôtre
Monsieur le Président

Si vous me poursuivez
Prévenez vos gendarmes
Que je n´aurai pas d´armes
Et qu´ils pourront tirer

Wahai Presiden
Akan ku tulis sebuah surat
Yang mungkin akan kau baca
Itupun jika kau ada waktu

Telah ku terima sepucuk surat
Surat Tugas Militer
Untuk pergi ke medan perang
Sebelum Rabu malam

Wahai Presiden
Aku tak akan pergi perang
Sebab Aku berada di dunia ini
Bukan untuk membunuh orang

Bukan maksudku membuatmu marah
Perlu ku katakan padamu
Putusanku sudah bulat
Ku kan pergi dari perang ini

Semenjak lahir
Ku menyaksikan ayah sekarat
Ku melihat saudara-saudara pergi
Dan tangis anak-anakku

Ibuku begitu banyak menderita
Ia kini berbaring dipemakaman
Dan tertawa pada bom
Dan tertawa pada cacing

Saat ku dalam tahanan
Ia mengambil istriku
Ia mencuri jiwaku
Dan setiap masa indahku

Esok pagi
Ku akan menutup pintu
Dalam menghadapi tahun-tahun mati
Aku akan pergi menuju jalan

Aku akan mengemis untuk hidup
Di jalanan Perancis
Dari utara hingga selatan
Seraya berkata kepada orang-orang

Jangan patuh
Jangan berperang
Jangan pergi ke perang
Jangan pergi

Jika memang butuh darah*
Silahkan berikan darahmu
Kau dipersilahkan
Wahai Presiden

Jika kau memaksa
Katakan pada pengawalmu
Bahwa aku tidak akan memiliki senjata
Yang dapat melukai

*Maksudnya jika pengorbanan darah para tentara merupakan jalan satu-satunya, maka korbankan saja dirimu presiden.

Alfatihah untuk Palestina…

Salaam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s