Catatan Kecil Tentang Sejarah

Video Kemerdekaan RI versi Jepang~Courtesy by Youtube

Saat berkata tentang sejarah (kiranya) kini saya mempunyai beberapa image baru antara lain:

  1. Sejarah bukan lah wujud asli 100% dari keadaan masa lampau yang diceritakan, sebab ia terwarnai oleh sang penyusun sejarah.
  2. Bermacam-macamnya versi sejarah merupakan anugrah tersendiri sebab poin pertama.
  3. Begitu pentingnya sejarah, cukup apa yang dilakukan Belanda sebagai contoh mereka dengan sangat detail menuliskan berbagai peristiwa yang terjadi pada saat menjajah Indonesia dan juga mendokumentasikan serta merawatnya hingga kini. Maka tak heran info yang kita dapatkan seputar tempo doeloe Indonesia berasal dari negri kincir angin itu.

“Bayangan” Mbah Sitok

Ora marga ajrih utawi wirang sun endha sak waliking barang
Ning mung karana ingsun ora rena didumuk dening cahya
Aja sira sumelang marga ora bisa ngekep suksmaningwang
Kita ginayut kaya nusa lan jalanidhi nganti kapapag pepati
Tan ana sing setya ngluwihi ingsun kang tansah nyarengi

Bukan takut atau malu aku berkelit di balik benda
Tapi semata karena aku tak suka disentuh cahaya
Jangan kau risau karena tak mampu peluk sukmaku
Kita bersipaut bagai pulau dan laut sampai dijemput maut
Tak ada yang setia melebihi aku yang selalu menyertaimu
–Cuplikan Sajak Sitok Srengenge–

Sejenak ku berhenti setelah membaca catatan dari akun Facebook milik sastrawan indonesia ini, terdiam sesaat, heran diri ini mengapa susunan kata-kata yang terdiri dari huruf-huruf yang biasa ku baca bisa menggugah hati, terlebih ketika memakai Kromo Inggil, begitu terasa seakan akulah sang pelaku dalam puisi ini.
Lalu diri ini tersentak lagi “Bagaimana dengan wahyu illahi?!” tentunya lebih mendalam ketika membacanya sebab ia bukan berasal dari lidah makhluk, sayangnya kebodohan diri ini menyelimuti keagungannya sehingga sesering apapun mulut ini membaca yang di temukan hanya susunan hijaiyyah.
Allhumma ighfirlana ya ghaffar